Daftar Blog Saya

Selasa, 01 November 2011

SELINGKUH

Debur arus sungai ini bak samudra saja. Bergemuruh. Airnya berpental-pental, bergelombang. Tiap pulang kerja, akhir-akhir ini aku suka singgah di sungai ini. Menikmati semilir yang sumir.

            “Hallo tampan...” Ah. Perempuan itu. Sudah di sampingku ternyata. Semilir angin membawa kumpulan rambutnya berderai, bergelombang. Juga bergemuruh. Meski gemuruhnya terdengar dalam dada. Bayangkan saja, tiba-tiba ada wanita jelita di sebelahmu. Seksi lagi. Aduhai begitu. Minimal hatimu berdebar.

            “Ada film bagus malam ini,” katanya. Aku sengaja tak menggubris. Aku tahu maksudnya. Sudah tiga kali ini dia bilang begitu.
            “Aku yang bayarin tiketnya deh..”
            “Tak perlu diterusin...” sanggahku datar.

            “Hei, hei.. takut banget sih ketahuan?? Kujamin, lokasi bioskop kalini cukup aman. Tak satu pun temanmu ada di sana!” hah, cerdas juga anak ini. Memang itulah alasanku selama ini menolak ajakannya untuk jalan-jalan. Takut ketahuan.
            “Kita ketemunya di bioskop saja. Aku berangkat duluan, tak tunggu kamu di pintu masuk. Jadi, kamu tak ada alasan lagi untuk khawatir kan?” ia menyebut nama sebuah bioskop. Emang, itu bioskop jauh dari keramaian. Seperti katanya, cukup aman!

            “Di sana, malah lebih banyak lagi teman-temanku. Mereka bekerja di sana,”
            “Halah. Kayak selebritis saja sih kamu?? Masak di mana-mana ada teman atau kenalanmu???”
            “Kenyataannya begitu..”
            “Jadi alasanmu selalu menolakku hanya karena takut ketahuan kan?” aku tak menyahut. Dia menarik tanganku, mengajak saling tatap muka. Shit, kayak Mike Tyson saja. “Sebenarnya, kalo tak ketahuan, kamu mau kan sama aku??”

            Dasar. Apa sih orang ini? Maksa sekali. Ah. Tapi mungkin aku ini memang lelaki yang tampan. Jadi bikin dia ngebet banget begitu. Aku balik menatapnya lekat-lekat.
            “Jangan persulit diri. Aku kan sudah bilang? Kalau sampai aku ketahuan, dia akan murka padaku. Aku pernah pupus harapan akan kehidupan ini. Hampir frustasi. Dan dia masih menolongku bangkit, meski sebenarnya aku tak peduli padanya. Bahkan, dia masih menolongku kala aku kesulitan men dapatkan istriku. Tanpa pertolongan dia, mungkin aku tak bakalan bisa mendapatkan cintaku itu..”
            Sejenak aku ambil napas. Menyimak deras air sungai. Wanita ini pun terlihat membisu.

            “Kuharap kau mau mengerti posisiku. Aku tak bisa melanggar syarat yang dia berikan padaku. Ketika aku menikah dengan istriku, aku berjanji padanya untuk merawat apa yang telah diberikannya padaku selama ini. Terutama tentang istriku itu...”
            “Heh, dari kemaren kau sebut-sebut terus tentang si dia. Emangnya, siapa sih orang kau sebut dia itu? Sampai-sampai dia seperti seorang mafia begitu? Bisa mengetahui di mana pun  kamu berada? Gayus saja tak begitu! Padahal dia mafia terlihai di negeri ini!”
            Memang, alasanku menolak wanita ini karena takut ketahuan dia. Kalau dia tahu aku menghianati istriku, aku akan kehilangan segalanya.
            “Kau salah. Gayus itu jadi menderita sekarang, justru karena melanggar syarat yang diberikan oleh dia!”
            Wanita ini terbelalak.
            “Heh, emang si dia yang kau maksud, juga kenal sama Gayus?! Kamu ini kok jadi aneh...”     
            Aku mengangguk.
            “Kamu ini lagi stress ya?! Apa gara-gara istrimu lama tak di sampingmu??!”
            “Aku serius. Sangat serius. Apa kamu benar-benar ingin tahu???”
            Ia tertegun agak lama.
            “Huh, memangnya siapa sih??”

            “Dialah Allah Swt. Yang mengutus para utusan berupa malaikat yang menjaga sanubar. Para utusan bernama syaitan, yang bertugas menguji iman manusia dalam kehidupan ini. Para utusan itu ada di mana-mana. Termasuk mendengarkan apa yang kita obrolkan ini..”

            “Cukup, cukup! Jangan diteruskan kata-katamu!!”
            Aku menghela napas. Ketika wanita ini menutup kedua telinganya rapat-rapat. Duh, padahal masih banyak hal yang ingin kusampaikan padanya.

            “Penjelasanku belum selesai nona....”
            “Oh, tidak... hentikan...aduh, mimpi apa aku semalam...mimpi apa aku semalam...bisa bertemu lelaki aneh seperti kamu.... aduh, mimpi apa aku semalam...mimpi apa aku semalam...”
            Sambil tak henti berkata begitu, ia mengangkat kedua tangannya memegang kepala. Aku tak tahu apa yang sedang dialaminya itu. Sungguh, aku takut ini ketahuan... []

komentar-komentar:

  • Arrachma Ich Whahaaa.... Mntappp mz, stujuu... Tpi mna ad yg kya gtu . Yg ada diembat... Hehehe
    07 Februari jam 12:24 · · 1

  • Aisy Maula tepuk tangaaan. . . . Smg bs d aplikasikan dlm bntk real y kang. . .
    07 Februari jam 12:43 · · 1

  • Tamam Ayatullah Malaka alan gesing: klo tak ada gangguan lagi, sore ini aja...
    07 Februari jam 13:28 ·

  • Mohammad Faizi saya baca nanti, ya... sepulagn syarwah :-) biar muatan dalam kepala ini makin lengkap dengan sayur santan dulu, sebelum dicairkan
    07 Februari jam 14:29 ·

  • Tamam Ayatullah Malaka Gus, jangan kebanyakan santan. Konon, santan bikin seseorang mabuk kepayang, haha
    07 Februari jam 16:02 ·

  • Dzikron Fuadi Besuk buat cerpen tentang petani yo mam, jangan yg pacaran terus kayak pas kuliah aja
    07 Februari jam 18:41 ·

  • Mohammad Faizi Wah, ternyata....
    ya, ya, ya. Pasti ketahuan kalau begitu.
    Oya, cerpen mazhab Hemingway. Maksud saya, andai percakapan/dialog dapat menjelaskan watak dan alur, pasti luar biasa. Ndak perlu lagi parafrase seperti para paragraf pembuka itu.
    Dicoba saja

    07 Februari jam 20:35 · · 1

  • Tamam Ayatullah Malaka
    Dzik--hahaha, kau ini. Tak rugi punya kawan jenius sepertimu. Bangsa ini perlu sosok sepertimu, biar tak melulu ngimpor beras, cabe, dan lele dari bangsa sebrang soni kuwi...


    M Faizi--hahaha, ketahuan juga akal-akalan saya ini. Mulanya mau...Lihat Selengkapnya
    08 Februari jam 8:12 ·

  • Nihayatul Wafiroh auw auw auw
    08 Februari jam 8:15 ·

KONCO WINGKING

Sudah sejak dulu aku menyimak apa yang tersirat dari sinar mata itu. Bahwa sinar itu ternyata lebih dari sekedar itu, inilah yang tak kusadari. Apalagi jika aku masih memintanya membuatkan kopi. Kau tahu apa yang bakal keluar dari mulutnya?

“Sebagai suami, kau terlalu manja!! Masak, semuanya harus disediakan istri?!” Nah, itu dia sahutan balik darinya. Ini masih mending. Coba dengar sekali lagi jika aku bilang masih banyak bajuku yang kotor, dan yang bersih belum sempat kuseterika.
“Kok enak sekali sih?? Jangan kayak anak kecil kamu. Aku ini bukan istri dari jaman kerajaan tahu?!”

Lebih mirip kalimat menghardik? Pedas? Begitulah, tapi seperti biasa, aku tidak pernah ambil peduli. Paling-paling aku berlalu ke ruang tamu, menghabiskan satu dua batang rokok. Meski terkadang aku bermimpi, bakal ada secangkir kopi di pagi hari dari tangannya.
*****
Konco Wingking. Itulah topik tak habis disepah sepanjang karir pernikahan kami. Ia selalu lihai mengutip istilah Jawa itu dengan ketatnya.
Sebagai suami, aku ini katanya terlalu kuno karena masih menganut pandangan lama. Di mana suami tinggal makan dan minum. Tinggal memakai baju tanpa mencucinya sendiri. Padahal zaman sudah jauh berubah. Lelaki dan perempuan sejajar di segala posisi dan bidang.
Aku sering jadi pusing sendiri, hingga kerap pulang malam dari kerja. Aku ini kan hanya memimpikan seorang istri yang menyediakan secangkir kopi di teras depan. Menyediakan hidangan sedap di ruang utama. Itu saja. Masalah cuci-mencuci, barangkali masih dikompromikan.

Tetapi, sekali lagi, tak layak bagiku selalu mengutuki diri. Setiap pilihan, selalu memiliki dilemanya masing-masing. Begitu pula, ketika dulu aku merasa pantas memilihnya karena beberapa alasan logisku tentang wanita yang ideal; maskulin, cerdas, dan cantik.
Tiga hal itu, dia memilikinya. Bahwa kemudian, ada tiga hal lain yang tak aku suka, barangkali itulah dilema sebuah pilihan? Ah, entahlah.
Barangkali, dia memimpikan sosok suami yang ideal dan tidak manja dalam versinya sendiri?: masak, nyuci dan bikin kopi sendiri? Ah, entahlah.
“Kalau saja aku tahu, kau adalah lelaki manja, aku pasti tidak akan memilihmu!” aku mengangkat kepala dengan kaget. Istriku sudah berdiri dan bersandar pada pintu. Aku  memilih cuek saja, dan pura-pura membolak-balik koran
Buktinya kamu masih memilihku kan??” sergahku datar.

“Kamu menyesal kita menikah?” imbuhku tetap asyik membaca koran.
Dia tidak menjawab. Aku tak peduli ketika dia beranjak menuju pintu. Tak selang kemudian, terdengar pintu ditutup dengan keras. Aku hanya geleng kepala.
*****
Jam sudah memutar ke angka sepuluh malam. Barangkali, ini adalah malam paling larut aku pulang ke rumah. Bagaimana pun, kantor sudah serupa rumah kedua bagiku. Aku bisa menikmati kopi dan rokok dengan tenang sambil melamun yang panjang.
Aku membuka jendela, suara bergemuruh langsung terdengar. Hujan sangat deras di luar. Baru jam setengah duabelas aku tiba di rumah. Dari kejauhan, lampu-lampu yang biasanya dimatikan, tampak menyala.
Isi rumah gemerlapan dilihat dari luar. Di kamar, istriku lelap tanpa selimut. Heran, padahal dia tidak senang lampu masih menyala jika waktunya tidur. Aneh.
Daarr

Tanpa sengaja, gelas yang di atas meja tergeser dan jatuh pecah di lantai. Istriku kaget, dan sontak bangun. Mula-mula dia tampak panik, tapi kemudian matanya berbinar melihat keberadaanku.
“Malam banget sih pulangnya??”
Aku tak menyahut sembari melepas kaos kaki. Tetapi dia malah mencubitku dengan keras, hingga pergelangan tanganku merah lebam. “Apa-apaan sih?? Kok nyubit segala???”
“Biar saja. Diajak ngomong kok kayak orang bisu!” Aku mau terbahak, tapi berhasil kutahan. Aku melemparkan badan di atas kasur, rasa lelah dan penatku seperti terobati. Sementara istriku duduk di sofa dengan bingung.
“Oya, maaf lupa bilang. Tiga hari ke depan, aku bakal pulang malam. Ada kerjaan tambahan.” Kulihat dia membekap mulutnya dengan tangan.
“Rencananya sih, mau nginap saja di hotel. Biar tidak boleh balik-balik.”
“Jangan!” potong istriku cepat. Jarak kantorku dengan rumah memang jauh, sekitar 30 kilo lebih. Tetapi tampaknya dia kurang rela.
“Lha, ketimbang bolak-balik?”
“Ya sudah, terserah!” sahutnya ketus.
*****

Ini adalah hari kedua aku pulang larut. Seperti malam kemarin, semua lampu menyala. Istriku malah tampak menunggu di beranda. Aku heran, karena di tangannya ada Laptop. Ia langsung berdiri melihatku datang.
“Mas, Laptopku rusak!” serunya sebelum aku masuk.
 “Rusak ya diperbaiki, beres bukan?” sahutku santai.
Tetapi tidak dengan istriku, dia menarik bajuku kala masuk ke dalam kamar.
“Ada atap yang bocor, rembesan airnya tepat di meja kerjaku. Makanya, kena laptop. Rusak deh.” katanya dengan suara merajuk.
Tumben feminin, batinku heran. “Terus kenapa?” tanyaku balik.
Dia menarik napas. “Ya diperbaiki mas. Masak dibiarin saja? Aku kan mesti selesain kerjaan??”
“Ya diperbaiki aja? Dibawa ke rental kek, beres kan?”

Dia menatapku bingung, kemudian diam dan tertunduk. Ketika aku berlalu, dia masih terdiam. Aku membiarkannya, pura-pura tak peduli. Apalagi punggungku seperti mau melengkung, bayangkan saja berjam-jam duduk di meja, gimana rasanya. Tentu rasanya pasti enak kalau badan ini sudah merebah di sofa, bisa tidur yang pulas.

Lamat-lamat aku mendengar suara aneh istriku. Betul saja, ketika kubuka mata, dia duduk di pinggiran sofa sambil sesengguk. Aku tak tahu apa yang dia rasakan. Yang jelas, tiba-tiba aku teramat ingin membelai rambutnya yang masih acak-acakan itu.
“Baiklah, atap yang bocor akan aku perbaiki,” kataku kemudian. Meski dia punya watak yang bagiku keterlaluan, tidak mau memasak untukku, juga untuk sekadar bikinkan kopi di pagi hari, tetap saja dia istriku. Dia menatapku seakan tak percaya. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Aku menyentuh bahunya, dan mengecup keningnya sebelum bergegas mencari alat untuk naik ke atap.
Hujan masih deras di luar. Dengan menggunakan tangga, aku nekat naik ke atap rumah. Ada dua genteng yang patah, pantesan bocornya lumayan besar. Sebenarnya, aku ingin membalas perilaku istriku. Biar dia saja yang perbaik atap. Kaum perempuan kan juga bisa melakukannya?
Ah, tapi aku tidak tega. Apapun itu, ia tetaplah istriku. Aku masih eman dengan kulitnya yang indah itu. Naik ke atas atap? Kalau terjatuh gimana? Aku juga yang bakal menyesalinya.
   Krakkk guluduk duk dukkk blar!

Aku terkesiap, suara guntur dan petir berbarengan di atas kepala, saling sambar. Reflek aku menutup telinga karena panik, apalagi ketika kayu peyangga seperti berpatahan.
Suara guntur dan petir makin kencang, menyeret-nyeret kesadaran. Kepalaku terasa berat, badanku pun seperti meluncur ke bawah dengan bebas. Aku pasrah.
*****

Aroma harum kopi semerbak seperti mengitari hidung. Di atas meja, tampak secangkir kopi yang masih mengepul. Aku mengejap-ngejapkan mata karena pandanganku masih agak kabur. Aku mengaduh, ketika aku berusaha bangun. Meja tempat kopi berada bergetar karena kupegang. Aku kaget melihat perban melilit kedua tanganku.

“Biar aku aja yang ngambilin ya!” tiba-tiba aku mendengar suara istriku.
“Mas terjatuh saat perbaiki atap rumah. Karena mas pingsan, kubawa mas ke rumah sakit. Aku menggotong mas ke mobil sendirian lho..”
Aku pura-pura tak respon. Dia menggamit kedua tanganku dan meletakkannya di dadanya.
“Mas marah ya? Aku janji, tiap pagi bikinin mas secangkir kopi, ya, ya?!” katanya merajuk. Kini, sambil terisak.
“Nyuciin baju mas juga?” kataku bercanda.

Ia cemberut, dan langsung mencubit tanganku. Kontan aku berteriak kesakitan. Ah, bisa-bisanya dia lupa kedua tanganku sedang diperban. Jauh di lubuk hati, aku bersyukur. Patah di tangan tidak apa, asal yang patah bukan di hati. Kurasa, setelah kejadian ini, kentalnya kopi akan selalu menemuiku di kala pagi.

komentar-komentar:
  • Nihayatul Wafiroh Jadi secangkir kopi sebagai tanda ketaatan istri pada suami ya ? Heeeeemmm
    Kalu nunggu suami pulang sampe malam bukan bagian dari ketaatan ya? Kalau menjadi teman diskusi yang enak buat suami juga bukan ketaatan ya? Ah...hanya secangkir kopi

    18 Oktober 2010 jam 11:50 melalui seluler · · 1 orang

  • Akhiriyati Sundari
    lumayan lah...cerita romantis. Seputar kopi dan istri di pagi hari. Aku jadi teringat, beberapa waktu yang sudah jauh berlalu, seseorang berkata kepadaku; "Aku hanya memimpikan, kelak jika aku menikah aku ingin begitu aku terbangun membuka mata di pagi hari, ada kopi panas yang dibuatkan oleh perempuan yang paling aku cintai". Jiaaaa....seharusnya ceritamu ini bukan berjudul "Konco Wingking", tapi "Kopi dan Racikan Tangan Perempuan"...Kekekekkekkk LEBAY!
    18 Oktober 2010 jam 11:52 · · 1 orang

  • Tamam Ayatullah Malaka
    mbak nik g usa sewot
    aku kan cuma bercerita saja,hahaha


    btw,cerpen yg di majalah
    itu simpel sekali
    ...Lihat Selengkapnya
    18 Oktober 2010 jam 12:01 ·

  • Akhiriyati Sundari
    Pada dasarnya aku setuju sama Mbak Ninik di atas. Ceritamu ini sarat tafsiran yang "ngganjel", Tamam? Menyundut hal yang sensitif terkait relasi lelaki-perempuan, suami-istri. Judulnya saja menohok "Konco Wingking". Menurutku, istilah itu TIDAK ADA dalam hubungan pasutri. [ah, aku melanggengkannya secara ndak sadar, kekeke]. Aku hanya mencoba membaca cerita ini dari sisi romantiknya saja. Bayangan lain, tentu saja aku akan senang melakukannya kelak. Menyeduhkan kopi panas untuk suamiku. Sekalian saja sebenarnya, karena aku pecinta kopi! ckakakakakk..
    18 Oktober 2010 jam 12:07 ·

  • Tamam Ayatullah Malaka
    hahaha
    kalian ngeroyok aku ya?
    aku kan cuma menggambarkan saja


    konco wingking itu
    bukannya TIDAK ADA
    tetapi ADA
    seiring dengan tema GENDER

    menurut hematku:
    antara GENDER dan KONCO WINGKING..
    selalu menyediakan timbal balik
    dua pihak yang bersitegang

    kupikir..
    lelaki-perempuan itu kan
    saling bertukar cinta
    yang membuat GENDER dan KONCO WINGKING
    tak lagi berlaku.

    di beranda rumah
    di pagi yang cemerlang
    saling berujar dan menikmat kopi

    cespleng!
    18 Oktober 2010 jam 12:16 ·

  • Tamam Ayatullah Malaka ‎--Kalau menjadi teman diskusi yang enak buat suami juga bukan ketaatan ya? Ah...hanya secangkir kopi--

    hehehe

    18 Oktober 2010 jam 12:19 ·

  • Jamie Depp gmn kabare mam,msh d'surabaya?
    18 Oktober 2010 jam 14:06 ·

  • Alimah Perempuan Ibuku
    ada misi terselubung yang justru aku tunggu2 dari pujangga satu ini, apalagi klo bukan untuk membuka mata dan kepala kaum penikmat patriakis. klo boleh reques, buletin yg sedang kukelola lagi butuh cerpen seputar Kesehatan Reproduksi (Kespro) atau cerpen dg setting remaja santri, terutama santriwati.sedangkan untuk tiga buletin lainnya, butuh tulisan artikel tentang perempuan,jika bank data tulisanmu banyak, sisakan buat media di Cirebon dan wilayah III Cirebon, ada biaya keringat dan pikiran yg dikeluarkan,bs to beli puluhan secangkir kopi.
    18 Oktober 2010 jam 14:30 · · 1 orang

  • Nihayatul Wafiroh MBak Alimah, aku sedang getol-getolnya belajar tentang kespro dan lagi semangat-semangatnya corat-coret cerpen. bolehkan ikut urunan cerpen? ya tentang santri dan kespro lah hehehhe

    Tamam, kapokkk dikeroyok, habis pengandaianmu terllau simple sih dengan hanya menyelaraskan secangkir kopi dan ketaatan hahhaha

    18 Oktober 2010 jam 14:55 ·

  • Alimah Perempuan Ibuku ‎@ mba Ninik: wah, makasih banget mba.Sumonggo, dinantiharapkan sekali. saya nanti akan kirim soft file prodak buletinnya juga via email. makasih banget loh mba...
    18 Oktober 2010 jam 14:58 ·

  • Alimah Perempuan Ibuku ‎@mba Ninik: kita distribusikan secara gratis ke seluruh Ponpes wilayah III Cirebon, baik Indramayu, Kuningan, maupun Majalengka. selain itu juga jaringan Fahmina-institute Cirebon lokal maupun nasional
    18 Oktober 2010 jam 15:01 ·

  • Nihayatul Wafiroh ‎@Mbak alimah, apa nama buletiinya ya? aku sering dapat gratisan bulletiinya dari Kang Faqih, I am his classmate at ICRS-YOgya hehhe. Opsss diskusi beginian di rumah orang, bakalan mencak-mencak ngamuk nih yang punya rumah hehhe

    @Tamam, untuk cerpenku yang di majalahmu itu sekedar tulisan ringan dari hasil belajarku pada tulisan-tulisan dahsyatmu :)

    18 Oktober 2010 jam 15:01 ·

  • Alimah Perempuan Ibuku ‎@mba Ninik: namanya "TANASUL", dlm bhs indnsia-nya "reproduksi". ini buletin baru. buletin lama juga ada, namanya "Blakasuta", dan "Al-Basyar" tapi khusus membahas isu buruh migran, trafiking, dan Community Oriented Polycing (COP)
    18 Oktober 2010 jam 15:05 ·

  • Nihayatul Wafiroh ‎@MBak Alimah, I have the soft version of Tanasul. Fagih sent me
    18 Oktober 2010 jam 15:06 ·

  • Alimah Perempuan Ibuku ‎@mba Ninik:buletin juga bisa dibaca di sini=>http://fahmina.or.id/penerbitan/tanasul.html, juga di sini=> http://fahmina.or.id/, dipinggir ada kanan ada Blakasuta
    18 Oktober 2010 jam 15:08 ·

  • Alimah Perempuan Ibuku ‎@mba Ninik: oh, okay, syukurlah...
    18 Oktober 2010 jam 15:09 ·

  • Tamam Ayatullah Malaka
    ukhti Alimah::: okeeeee,misi terselubungku akan aku buka di sanaaa,hehe.Tak mengembara dulu di alam pesbuk dulu.Golek berkas2 kehidupan.Sukron ukhti, untuk sambaran penawarannya!


    Btw, mbak nik, silahkan saja
    berisik juga boleh di rumah a...Lihat Selengkapnya
    18 Oktober 2010 jam 15:27 ·

  • Isma Kazee mam, kalau istrimu tak mau membuatkan kopi artinya kamu blm bisa menyentuh perasaan dan hatinya. sebenarnya bukannya tak mau membuatkan kopi, tapi istrimu tak mau itu jadi rutinitas dan keharusan, apalagi sampai jadi ukuran ketaatan dan cinta. kamu tahu lagunya ari lasso kan, sentuhlah dia di hatinya ...
    18 Oktober 2010 jam 23:23 · · 2 orang

  • Sirr Ahmala Jabulani Sekali-sekali memuji racikan istri jauh lebih nikmat, bukan?! Anggaplah saja pitunem-mu itu senikmat 234, meskipun sebenarnya memang pitunem!
    19 Oktober 2010 jam 1:53 melalui seluler · · 1 orang

  • Tamam Ayatullah Malaka
    mbak isma:hik hiks..
    aku kan cuma menulis cerpen.kok dianggap kisahku sendiri.nasib.nasib...


    aduh istriku,ini bukan kisah
    kita berdua bukan? ihik ihik...

    kawan 234--
    hahaha
    kau benar kawan.racikan istri emang semerbak
    membuatku terlupa akan pituenem,wkkk
    19 Oktober 2010 jam 9:39 ·

  • Nihayatul Wafiroh kapokkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk mari kita gencet tamam bareng2
    19 Oktober 2010 jam 10:02 ·

  • Ecka Pramitha mungkin kopinya bermaksud simbol, tapi esensinya menurut saya ya perhatian, apapun itu yang penting tidak terpaksa dan bersumber dari hati....kalau misalnya istrinya tak pandai buat minuman ya dibuatin dunk hehe
    19 Oktober 2010 jam 15:05 · · 1 orang

  • Tamam Ayatullah Malaka
    ‎---ecka
    hai,haiiii..
    akhirnya ada juga
    yang mau memahamiku,ihik ihik


    maturnuwun atas sumbangan penjelasan itu Ecka
    sungguh,itu beberapa bagian
    dr yg saya maksudkan itu...

    terima kasih

    (uhuk uhukkkk..lirik-lirik.com
    19 Oktober 2010 jam 15:22 · · 1 orang

  • Ecka Pramitha mas tamam lebay deh, aku hanya melihat dari kopi sebagai pertanda, soal penandanya sih bisa berwujud apa saja, termasuk nyuci n ntrika baju sendiri hehe
    19 Oktober 2010 jam 15:35 ·



YANG MENYELA CINTA [3]

Inilah saat-saat paling ditunggu. Menunggu jejakmu hadir di sini. 

Aku tahu, kau takkan mungkin jauh-jauh dan berlari dari tempat ini. Tempatmu berkesah. Ruang waktumu membagi kegelisahan. Kau pasti akan kembali sekali dan berkali ke sini. Di tempat ini.

Telah kusimak ritmemu setelah akhir cerita yang dulu itu. Kau telah memilih. Memilih yang ingin kau pilih, dan meninggalkan yang terpilih. Kau memilih yang datang, dan meninggalkan yang sudah tergemgam.
Hari ini. Masih di jembatan kali ini. Kau kembali menghadiriku.

Media seluler telah menjebak sang waktu tak berkutik. Ruang dan waktu tak lagi bermanfaat. Kecepatan teknologi membuat segala sesuatu serba ajaib. Sekejap mata memejam, secepat itu pula, sesuatu sanggup terpancang di depan mata.


Seperti biasa, kau berdiri di sebelahku, memangku pagar jembatan dan menyorong panjangnya arus sungai. Deras arus, gemuruh di telinga. Hembusan angin berdersir serupa bernyawa. Napasmu juga seakan mengalir di tengkuk. Nafas yang tak biasa bagiku. Apa kau sedang gundah?

“Apa kau tak kangen padaku?” katamu lirih. Sontak aku terkekeh.
“Apa kau bilang?”
“Hehehe, ah, nggak. Maksudku, aku kangen berbincang lagi denganmu.”
“Bagaimana kabar kekasihmu?”
Kepalamu terdongak sebentar, dan kau terdiam. Sesaat, kau mengangkat kepala. Kuat kau menatap. Ada yang menggetar di dalam. Di rongga-rongga dada ini.

Tiba-tiba, kau menyentuh pundakku. Rongga-rongga dada ini, kini seakan terdesak. Aku menahan napas. Tak berani menghembuskannya. Aku seperti dikekang rasa yang hebat. Semoga aku tak sedang memendam rasa. Amin.


“Maukah kau katakan padaku, mengapa orang yang kita suka akan meninggalkan kita demi yang dia cintai?” katamu. Benar juga firasatku. Kalimatmu ini, sungguh membuatku ingin menahan napas lebih lama, sedikit kaget. Kucoba tertawa pendek.
“Memangnya kenapa?” Tanyaku balik. Kau tak menyahut, lalu kau membungkuk, mengambil dua potong kerikil besar dan melemparkannya ke arus sungai yang deras.
“Memang, bersama pilihanku, jauh lebih baik ketimbang darinya. Tapi, sejak pacarku menyatakan lepas dariku, seketika itu juga aku merasa ada yang padam dalam jiwa. Ada rasa sesal yang susul menyusul. Dalam menyergap, apalagi saat sadar, ia benar-benar telah pergi dariku...”
“Haha, buat apa lagi kau pikirkan apa yang sudah pergi? Pikirkan yang di depan mata. Kecuali, kau pengen dikerat-kerat luka. Bukankah, kau sudah memantapkan hati menentukan kemantapan pilihan terbaik bagi masa depan?”


Lagi-lagi, seperti biasanya, kau menggeleng2.
“Bersamanya, memang jauh lebih baik. Aku mengakuinya. Tetapi, sejak dia benar-benar lepas dari genggaman, tiba-tiba aku merasakan rasa takut yang tak aku mengerti. Rasa takut yang membuatku seakan menyeretku memasuki kegelapan.”
“Doh, buat apa kau pedulikan itu? Kalau pilihanmu yang sekarang justru lebih baik?” kataku sedikit mengejar. Tapi dadaku ini, menggetar lebih hebat. Aboh boh.
“Justru, itu dia masalahnya,” lanjutmu, “Aku merasa sangat takut ditinggalkan. Perasaan yang tak pernah kurasakan selama bersama pacarku. Dan aku merasakannya saat bersama pilihanku yang sekarang...”
Aku tertegun. Sejauh itu, pengalaman cintamu bergerak tak seperti siput yang lambat. Wajahmu terlihat muram durja, serupa tungku beku yang lama tak disapih api. Seperti biasa, kubiarkan kau berbusa celoteh.

“Sebulan setelah jadian, kami sering cekcok. Padahal sebelumnya kami begitu mesra dan harmonis. Sekarang, kami sering bentrok dan saling berdiam diri. Kemaren, aku mengetahuinya sering sms-an sama seseorang yang pernah dicintainya. Kau tahu, lukanya tak terkira.”
Aku mendesah. Luka itu, aku tahu. Luka itu, juga tersimpan di sini. Di dada ini. Sungguh, aku sangat paham, rasa luka yang itu.
“Aku tak tahan lagi. Makanya, aku...aku jadi pengen tahu, kenapa kau sampai berkata begitu padaku. Seolah, kau sudah tahu apa yang kualami nantinya.”
“Rahasianya, pilihanmu itu tidak mencintaimu. Kau hanyalah korban empuk sebuah pelarian. Pelarian dari kegagalannya mendapatkan cinta. Kebetulan dia menemukannmu, dan ternyata kau mau. Meski dia tidak mencintaimu, tapi bagaimanapun dia sedang butuh pelarian. Pelarian dari rasa nestapa dan kecewa. Dan ketika orang yang dicintainya tiba-tiba datang, tentu ia akan lebih memilih cinta orang yang pernah diidam2kannya itu kan?”
“Apa benar memang seperti itu keadaannya??”
Aku tidak mengangguk, juga tidak menggeleng. Aku ingin kau mencernanya dengan hati dan pengalaman. Agar kau bisa menemukan jawabannya sendiri, tanpa aku harus memberikan jawaban iya atau tidak. Itu lebih mendewasakanmu.
“Engkau yang dulunya redup, jadi punya nyala dan nyali berkat kelebat lelakimu itu. Maknya, saat lelakimu lepas darimu, nyala semangat itu pun ikut padam. Sebab apa? Kau pun sesungguhnya cinta dia, dan kau pun tahu itu.”
Aku diam sejenak.Aku ingin kau punya jeda menyimak.

“Darimana kau tahu, pilihanku itu tak mencintaiku??”
“Dia tahu, kau ada yang punya. Tapi dia tetap menggait cintamu. Hanya seorang playlove yang bisa melakukan hal itu. Seorang yang memang memiliki cinta, pasti akan mundur. Sebab, yang diinginkannya adalah sosok yang setia. Sosok yang bisa dipegang, dan bisa menjaga cinta. Tak seorang pun di dunia ini, yang ingin dikhianati. Itulah kehormatan cinta. ”
Khusyuk aku mengatakan itu. Iya, karena itulah yang sedang kudera kini. Kehilangan seseorang yang pernah mencintaiku, juga aku pun mencintainya. Kuharap dengan kekhusuyukan ini, kau mulai memaklumi beberapa petik kekeliruan di masa yang berlalu.
Aku letakkan tangan di bahumu. Dalam keluhmu, tak kuasa aku berdiam. Kutarik napas, dan membuangnya tenang. Aku sadar, di sini kau butuh ketenangan. Setidaknya, dari luar dirimu. Aku contohnya. Kembali kutarik napas sebelum bicara.


Kau mendesah. Makin deras air matamu mengalir. Tanpa tangisan. Sejenak aku ragu meneruskan. Tapi, kurasa ini penting. Aku tidak sedang menasehatimu sobat, aku hanya sedang membagi solusi.
“Lelakimu itu...” lanjutku, “benar-benar memberikanmu seutuhnya cinta. Dengan cinta itulah, sesungguhnya semangatmu tumbuh seperti lampu. Semangat itulah yang membuat yang lain pun jatuh cinta padamu.”
Kau menggeleng-geleng seperti biasanya. Beda denganmu, aku tidak menggeleng-gelengkan kepala, tapi hatiku. Hati yang sedang retak. Retak semacam piring yang jatuh.
“Mungkin aku yang bodoh, atau memang bahasamu yang terlalu tinggi. Aku tetap nggak paham apa yang kamu jelaskan...”
Kau menunduk. Duh, sukar nian menyederhanakan kalimat. Tapi sungguh, caramu tertunduk dalam begitu, membuat jantungku berdesir. Bahkan, kala kepalamu terangkat dengan mata tersorot di mataku, jantung ini seperti mau terlepas. Blung!
“Hik hik, rasanya, aku ingin bunuh diri...”
Aku balik menyentuh pundakmu reflek. Menatapmu lama, kemudian beralih, menyusuri deras aliran sungai yang biru kehitam-hitaman. Air penuh limbah. Konon, dari air sungai inilah, warga kota mendapatkan air minumnya.

Kau lalu menatapku. Lama. Lama sekali.
“Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu??” cetusku agak gelagapan. Kau masih menggeleng-geleng. Makin lama, tatapanmu seakan berubah sebentuk danau. Danau, yang membuat mataku seakan ditenggelamkan. Kesadaranku jadi tak bisa fokus lagi. Dari pipimu yang putih bersih, tetes-tetes basah makin menggenang. Aku terpana. Tiba-tiba aku merasa gelisah. Aku nggak tahu, apa perlu merasa terharu ataukah tidak.


Tetapi yang pasti, rapat pelukanmu ternyata rapat menerpaku. Aku terhenyak.
“Bagaimana jika kubilang...aku jatuh cinta padamu??”
Baru kemudian melepaskan pelukan perlahan, dan mundur selangkah. Timbul rasa hening menyergap. Ada nuansa biru laut yang mendekam.
“Jangan main-main. Ini masalah perasaan...” kataku makin tak menentu.

Kembali kau menggeleng-geleng.
“Aku...aku... ingin...”
Terpatah kau bicara. Aku kacau menunggu, kalimat lanjutanmu. Lagi-lagi, kau mendekat, aku pun siaga.
“ Aku ingin....menikah... denganmu...”

Zlap.

Hatiku kini dipenuhi rasa takut. Semisal aku menerimamu, apakah di suatu saat kau takkan meninggalkanku? Dan apakah kau akan kembali pada yang kau cintai, andai saja dia masih ingin kembali? Sungguh, kakek buyutku pastilah benar. Jangan sampai jatuh ke lubang dua kali. Apalagi di tempat yang sama. []



[darimana datangnya angin
saat kau cari-cari ia tak pernah datang
maupun pergi

[angin ini
ada di sini
juga di situ
pun, di sana

[ia ada
menjadi ada
saat-saat kau mulai menyadarinya

[hembusannya
lebih berasa
dari bara? []

komentar-komentar:
 

PERNIK DI SELA CINTA [2]

Menunggu. Ya, menunggu. Ternyata asyik juga menunggu. Menunggu kisahmu selanjutnya. Memang apa yang menarik dari kisahmu? Ah, entahlah. Yang pasti, ada rasa rindu menyimakmu berdendang dengan semua itu. Tetapi, lama sudah kau tak berjejak di sini. Di tempat ini. Di jembatan Kali Jagir ini.
Di sebelah sana itu, berbulan dahulu, pernah ada penggusuran besar2an rumah warga. Biar sehat dan bersih katanya. Sekarang, tambah kumuh. Kini, beberapa gubuk dan warung mulai bersitumbuh. Kasihan juga warga. Mereka kelimpungan mencari nafkah hidup, setelah tanahnya tergusur. Dan ternyata, tak ada penyelesaian yang gamblang. Mereka, layaknya warga asing yang menjadi pengganggu.
“Apa kedatanganku tak mengganggu??”

Aku membalikkan badan. Hmm. Dia rupanya. Kupikir kamu. Sebulan sudah dia tak nongol2 dalam jejakku. Mau apalagi dia?
“Apa kamu masih marah padaku?”
Aku menggeleng sebelum kemudian tersenyum.
“Tidak. Aku tidak marah.”
Sebulan sebelumnya, kami berpisah. Dia pamit izin ke Jakarta. Ada dinas katanya. Kebetulan, dia bekerja sebagai pekerja media. Dua minggu, dia mengabarkan sedang dekat dengan seseorang. Tiga minggu setelahnya, berminggu tak bertemu, ia mengaku merasakan kebosan luar biasa tentangku. Lama tak bertemu, membuatnya tersadar, kerja kami yang berbeda-lah penyebabnya. Aku kantoran, dan dia lapangan. Nggak mecing. Rasa kangen selalu tertunda jadinya. Perjumpaan jadi rumit. Itu membosankan. Begitulah alasannya. Bosan dengan rasa kangen yang terpenggal-penggal.

“Aku sadar, ini menyakitkanmu. Tapi rasa bosan ini cukup mengusik dan menggangu hatiku. Aku tak bisa berdiam lebih lama. Dan tiba-tiba aku tak bisa menahan tumbuhnya rasa cintaku pada yang lain. Sungguh, maafkan aku!”
“Pergilah. Jika memang kau menginginkan pergi..”
Sejenak, sorot matamu seperti terkatup mendengar sahutku.
“Benar, tidak apa-apa?”
Lagi-lagi aku menggeleng sebelum kemudian tersenyum hangat. Ada rasa malas bersuara. Kini, tiap-tiap sorot matamu, seakan sorong lampu kendaraan yang semburat.
“Menahanmu yang sudah ingin pergi? Buat apa? Ketika cintamu sudah memudar, apalagi yang bisa kuhirup dan kuharap dari keindahan rasaku? Karena kau ikut memiliki rasa cinta padaku-lah yang membahagiakanku selama ini. Aku takkan menahanmu. Yang membahagiakanku darimu, adalah rasa cintamu padaku. Dan rasa cintaku padamu. Itulah yang membedakanmu dari yang lainnya. Lenyapnya cintamu, maka tak berguna lagi memilikimu. Cinta itu pusaka yang membuat keberduan kita memiliki keutuhan; kebahagiaan.”

Panjang lebar aku berkesah. Berkesah tanpa menatapmu sama sekali. Aduh, duh. Ternyata aku sedang menunggu kisahku sendiri. Bukan kisahmu, sobat.
“Kamu ikhlas?”
“Ya. Aku ikhlas. Pergilah.”
“Terima kasih atas ketulusan dan pengorbanan rasa cintamu padaku selama ini..”
“Sudahlah. Tak perlu kau pikirkan. Hidup ini pilihan. Memaksamu untuk tetap di sini, hanya akan menghasilkan hal-hal yang terpaksa pula. Selamanya kita akan menderita oleh hidup yang sarat keterpaksaan. Sekarang bebaskan belenggu itu. Pergilah, dan hiduplah bersamanya.”
“Kamu serius??”
Ulangmu. Aku menganguk, mantap. Kau menarik napas dalam. Memegang kepala, dan manggut-manggut.
“Ya, sudahlah. Terima kasih, kau masih mau mengerti keadaan ini. Aku...” “Tidak apa-apa. Apalagi yang lebih indah dari cinta, selain pengorbanan? Pergilah. Aku akan bahagia karenanya...”
Lagi-lagi kau menarik napas dalam. Setelah manggut-manggut, kau pun membalikkan badan.
“Terima kasih...” ucapmu sebelum berlalu.

Tubuhmu kemudian menghilang di antara sela-sela kendaraan yang padat di kota bising dan polusi ini. Dalam kepala, aku seakan terkepung kumpulan bahasaku sendiri, [Apalagi yang lebih indah dari cinta, selain pengorbanan? Pergilah. Aku akan bahagia karenanya..]
Aduhai cinta, benarkah? Benarkah pengorbanan ini seheroik itu? Aku benar-benar tak ingin berlama dengan kepungan kalimat itu. Yang pasti, di jembatan ini, aku masih menunggu. Menunggumu berkisah selanjutnya. Atau, di tengahnya kucegat sejenak. Agar, aku pun bisa berbagi kisah denganmu. Lalu, seperti apakah kisahmu sekarang?? Sungguh, ada rasa tak tahan, untuk berbagi kisah denganmu.[]
.
komentar-komentar
:

  • Dianita Binti Alwan Hmm.. nnngg..
    30 September 2009 jam 21:47 ·

  • Yuli Kyala Asykury
    sudah kuduga, kalau kisahmu selalu menarik. cinta tak harus memiliki. atau bahagiamu bahagiaku. (kalau dikunyah-kunyah....selalu ada hubungannya) hehe. makacih om.

    02 Oktober 2009 jam 19:58 ·

  • Stella Maria Mimara Dita wah.....terrenyuh aq menyimaknya......
    03 Oktober 2009 jam 11:20 ·

  • Rangga Umara Nh ancen selalu mantap notenya...
    12 Oktober 2009 jam 16:01 ·


YANG MENYELA CINTA [1]

Pagi masih juga cerah. Di langit timur, terangnya benderang. Dan kau masih berbusa berkisah. Kau katakan padaku tentang masa lalu yang tiba-tiba datang lagi. Juga tentang kehadiran orang-orang baru yang bagimu mustahil terjadi jika di waktu sebelum-sebelumnya. Mereka semua, memberikan senyumnya yang lebih dari biasa. Amboi.

“Kau tahu,” kisahmu, “orang yang mulanya menolakku, kini datang dan memintaku jadi sang kekasih. Bukan hanya itu, seseorang yang pernah membuatku jatuh cinta, juga muncul. Dia bilang rasa sukanya padaku. Ternyata, ya, aku ini termasuk punya kelas, hehe”

Hehehe. Aku pun terkekeh.

Kau terus berceloteh. Menurutmu, dulu betapa sulitnya bagimu mendapatkan cinta, sekarang drastis berbalik. Betapa makin mudah bagimu mendapatkan penghargaan dan cinta dari berbagai orang, yang dulu sepertinya tidak mungkin didapat. Hatimu sudah tentu penuh bunga sekarang. Mekar dan kehijauan karena hal itu.

“Masalahnya, aku sudah punya,” aku kecut tersenyum. Aku tahu itu. Kau memang sudah punya. Seingatku, kau begitu membanggakannya.
“Lalu, apa selanjutnya?” tanyaku coba menelisik. Kau menerawang.
“Ah, kenapa semuanya begitu datang terlambat??? Coba sebelum aku punya seseorang???” keluhmu galau. Raut wajahmu kini seperti tebal mendung. Bakal hujan nih.

0000
“Ternyata aku salah memilih. Kekasihku saat ini, jauh dari yang aku harapkan. Aku ingin memilih salah satu di antara mereka saja, yang menyukaiku. Banyak di antara mereka masa depannya lebih baik. Lebih prospek, lebih sempurna, pengertian dan tentu lebih perhatian ketimbang pacarku itu.”
Aku mendehem.

“Mau ganti, gitu maksudmu?” sambungku kemudian. Kau terkekeh.
“Loh, kan ada yang lebih meyakinkan masa depan??”
Hahaha. Aku tertawa.
“Jujur saja, pacarku yang sekarang tak bisa diandalkan. Ada yang lebih baik di depan mata. Hehehe, lah kenapa tidak??”
Hahaha. Lagi-lagi aku tertawa. Kali ini, terbahak. Aku menepuk bahumu.

“Boleh aku menyuguhkan satu cuil rahasia cinta??” Kau picingkan mata dengan kalimatku yang ini. “Coba amati, ternyata ya, kebanyakan orang jomblo, harus pontang panting meraih cinta.” Aku sejenak tarik napas dalam sebelum melanjutkan kata. dan sepertinya kau tak berminat dengan tema ini. Aku acuh. Aku meneruskan lagi; “dan herannya, sebagian besar orang yang sudah punya, ternyata memiliki kemudahan mendapatkan cinta yang lain.”

Kau sontak terdiam.
“Pernah kau terpikir ini??”
Kepalamu menggeleng. Hahaha. Sekali lagi, aku tertawa. Kesekian pula, kutepuk-tepuk bahumu.
“Tentu, itu karena cinta memilih rahasianya sendiri yang kadang terpendam. Makanya, bagi yang memahami cinta, ia tak lagi mencari, selain cinta itu sendiri,” cetusku.
“Dan, Satu lagi,” tambahku, “jangan pernah meninggalkan orang yang kau cintai, demi orang yang kau suka. Karena, orang yang kau suka, akan meninggalkanmu demi yang dia cintai.”

Hahaha. Ini bukan aku yang tertawa. Ini kamu yang terbahak. Keras. Keras sekali.
“Coba kau periksa2, kenapa saat ini justru makin banyak cinta mekar dalam hidupmu? Dan kenapa dulu, tidak semekar dan secemerlang seperti sekarang?”
“Hoho, kamu omong kosong apa itu!!” katamu sambil bangkit dari duduk.

“Mau kemana kau...” kataku kemudian. Kau tersenyum simpul.
“Kau tentu lebih tahu, apa yang akan aku perbuat. Kesempatan seperti ini, tak selamanya selalu ada dan terjadi, hehehe...”

Dari tempatku berdiri, aku menyimak sudut derapmu di antara jejak terik. Kini, aku menunggu. Menunggu kisahmu selanjutnya. Menunggu kau mengatakan, kenapa tiba-tiba semuanya seperti menjelma lampu padam? Inilah teka-teki kehidupan.

Segala sesuatu, tentu diselai oleh pernak-perniknya. Yang membuat diri ini tersadar, terkadang keputusan tak melulu hasil dari hati dan pikir, namun dari angan dan khayal yang menyilang silau keakuan.

Ah, katanya juga demikianlah fatamorgana cinta. Jika sudah menemukannya, diri ini menjadi pusaka. Semua menjadi silau pulau. Konon, meninggalkannya, sama saja kembali menjadi benda biasa. Ah, cerita apa ini? Cerita apa tadi? Lupa-lupa. Lupa lagi, alurnya. []

komentar-komentar:
  • Isma Kazee “jangan pernah meninggalkan orang yang kau cintai, demi orang yang kau suka. Karena, orang yang kau suka, akan meninggalkanmu demi yang dia cintai.” hehehe... ono2 wae mam...
    29 September 2009 jam 12:15 ·

  • Tamam Ayatullah Malaka ‎...
    hehehe
    itu kalimat kutipan kok mbak. Aku g tau siapa pencetusnya. Seorang bocah SMA kala berkesah sama temannya kudengar lamat-lamat suatu ketika. Nyatanya, enak dan dalam terdengar, wekeke

    29 September 2009 jam 12:35 ·

  • Lidiastuti Gulo
    kalo konsepnya adalah mencari yang terbaik tak kira sampai kapanpun ga akan penah selesai...setiap ketemu yang beda dikit hati dah melenceng karna yang namanya manusia biasanya liat yang baru itu mesti lebih bagus..berusaha aj membuatnya selalu menjadi lebih baik untukmu..dan tetntunya kitapun selalu berusaha menjadi lebih baik untuknya..dengan begitu dia akan selalu dalam proses menjadi yang terbaik untuk kita pun demikian sebaliknya..
    hueh ... bah....ngomong opo seh panjang bener...kayo wes ahli wae..he...tapi begitulah konsepku sejak menemukannya he...
    29 September 2009 jam 12:36 ·

  • Tamam Ayatullah Malaka
    ‎...
    subhanallah
    kok tau2 aku terharu??


    hikz hikz...
    ...Lihat Selengkapnya
    29 September 2009 jam 12:41 ·

  • Abd Aziz Rivaldy kau memang penyair yg selalu menggambarkan isi hatimu lwt karya mam, lanjutkan...
    29 September 2009 jam 12:45 ·

  • y lanjutkan...smgat bos...
    29 September 2009 jam 13:38 ·

  • Hie Da hmmm...sepertinya saya mengerti skarang...
    29 September 2009 jam 13:44 ·

  • Rangga Umara Nh ‎(“jangan pernah meninggalkan orang yang kau cintai, demi orang yang kau suka. Karena, orang yang kau suka, akan meninggalkanmu demi yang dia cintai.”)

    kok aku jadi ingat sesuatu ya...? atau seseorang? hehehe

    29 September 2009 jam 13:48 ·

  • Fajar Widodo Sa sepakat sama temen-temen tentang isi hatinya mas tamam...
    29 September 2009 jam 20:23 ·

  • Salwa Dee Hmm...
    30 September 2009 jam 12:37 ·

  • Yuli Kyala Asykury cerita sangat menarik
    seprti aku ikut terlibat didalamnya.
    ceria, tapi mengandung pesan yang dalam. muantap, om.

    30 September 2009 jam 21:09 ·