Debur arus sungai ini bak samudra saja. Bergemuruh. Airnya
berpental-pental, bergelombang. Tiap pulang kerja, akhir-akhir ini aku
suka singgah di sungai ini. Menikmati semilir yang sumir.
“Hallo tampan...” Ah. Perempuan itu. Sudah di sampingku ternyata. Semilir angin membawa kumpulan rambutnya berderai, bergelombang. Juga bergemuruh. Meski gemuruhnya terdengar dalam dada. Bayangkan saja, tiba-tiba ada wanita jelita di sebelahmu. Seksi lagi. Aduhai begitu. Minimal hatimu berdebar.
“Ada film bagus malam ini,” katanya. Aku sengaja tak menggubris. Aku tahu maksudnya. Sudah tiga kali ini dia bilang begitu.
“Aku yang bayarin tiketnya deh..”
“Tak perlu diterusin...” sanggahku datar.
“Hei, hei.. takut banget sih ketahuan?? Kujamin, lokasi bioskop kalini cukup aman. Tak satu pun temanmu ada di sana!” hah, cerdas juga anak ini. Memang itulah alasanku selama ini menolak ajakannya untuk jalan-jalan. Takut ketahuan.
“Kita ketemunya di bioskop saja. Aku berangkat duluan, tak tunggu kamu di pintu masuk. Jadi, kamu tak ada alasan lagi untuk khawatir kan?” ia menyebut nama sebuah bioskop. Emang, itu bioskop jauh dari keramaian. Seperti katanya, cukup aman!
“Di sana, malah lebih banyak lagi teman-temanku. Mereka bekerja di sana,”
“Halah. Kayak selebritis saja sih kamu?? Masak di mana-mana ada teman atau kenalanmu???”
“Kenyataannya begitu..”
“Jadi alasanmu selalu menolakku hanya karena takut ketahuan kan?” aku tak menyahut. Dia menarik tanganku, mengajak saling tatap muka. Shit, kayak Mike Tyson saja. “Sebenarnya, kalo tak ketahuan, kamu mau kan sama aku??”
Dasar. Apa sih orang ini? Maksa sekali. Ah. Tapi mungkin aku ini memang lelaki yang tampan. Jadi bikin dia ngebet banget begitu. Aku balik menatapnya lekat-lekat.
“Jangan persulit diri. Aku kan sudah bilang? Kalau sampai aku ketahuan, dia akan murka padaku. Aku pernah pupus harapan akan kehidupan ini. Hampir frustasi. Dan dia masih menolongku bangkit, meski sebenarnya aku tak peduli padanya. Bahkan, dia masih menolongku kala aku kesulitan men dapatkan istriku. Tanpa pertolongan dia, mungkin aku tak bakalan bisa mendapatkan cintaku itu..”
Sejenak aku ambil napas. Menyimak deras air sungai. Wanita ini pun terlihat membisu.
“Kuharap kau mau mengerti posisiku. Aku tak bisa melanggar syarat yang dia berikan padaku. Ketika aku menikah dengan istriku, aku berjanji padanya untuk merawat apa yang telah diberikannya padaku selama ini. Terutama tentang istriku itu...”
“Heh, dari kemaren kau sebut-sebut terus tentang si dia. Emangnya, siapa sih orang kau sebut dia itu? Sampai-sampai dia seperti seorang mafia begitu? Bisa mengetahui di mana pun kamu berada? Gayus saja tak begitu! Padahal dia mafia terlihai di negeri ini!”
Memang, alasanku menolak wanita ini karena takut ketahuan dia. Kalau dia tahu aku menghianati istriku, aku akan kehilangan segalanya.
“Kau salah. Gayus itu jadi menderita sekarang, justru karena melanggar syarat yang diberikan oleh dia!”
Wanita ini terbelalak.
“Heh, emang si dia yang kau maksud, juga kenal sama Gayus?! Kamu ini kok jadi aneh...”
Aku mengangguk.
“Kamu ini lagi stress ya?! Apa gara-gara istrimu lama tak di sampingmu??!”
“Aku serius. Sangat serius. Apa kamu benar-benar ingin tahu???”
Ia tertegun agak lama.
“Huh, memangnya siapa sih??”
“Dialah Allah Swt. Yang mengutus para utusan berupa malaikat yang menjaga sanubar. Para utusan bernama syaitan, yang bertugas menguji iman manusia dalam kehidupan ini. Para utusan itu ada di mana-mana. Termasuk mendengarkan apa yang kita obrolkan ini..”
“Cukup, cukup! Jangan diteruskan kata-katamu!!”
Aku menghela napas. Ketika wanita ini menutup kedua telinganya rapat-rapat. Duh, padahal masih banyak hal yang ingin kusampaikan padanya.
“Penjelasanku belum selesai nona....”
“Oh, tidak... hentikan...aduh, mimpi apa aku semalam...mimpi apa aku semalam...bisa bertemu lelaki aneh seperti kamu.... aduh, mimpi apa aku semalam...mimpi apa aku semalam...”
Sambil tak henti berkata begitu, ia mengangkat kedua tangannya memegang kepala. Aku tak tahu apa yang sedang dialaminya itu. Sungguh, aku takut ini ketahuan... []
komentar-komentar:
“Hallo tampan...” Ah. Perempuan itu. Sudah di sampingku ternyata. Semilir angin membawa kumpulan rambutnya berderai, bergelombang. Juga bergemuruh. Meski gemuruhnya terdengar dalam dada. Bayangkan saja, tiba-tiba ada wanita jelita di sebelahmu. Seksi lagi. Aduhai begitu. Minimal hatimu berdebar.
“Ada film bagus malam ini,” katanya. Aku sengaja tak menggubris. Aku tahu maksudnya. Sudah tiga kali ini dia bilang begitu.
“Aku yang bayarin tiketnya deh..”
“Tak perlu diterusin...” sanggahku datar.
“Hei, hei.. takut banget sih ketahuan?? Kujamin, lokasi bioskop kalini cukup aman. Tak satu pun temanmu ada di sana!” hah, cerdas juga anak ini. Memang itulah alasanku selama ini menolak ajakannya untuk jalan-jalan. Takut ketahuan.
“Kita ketemunya di bioskop saja. Aku berangkat duluan, tak tunggu kamu di pintu masuk. Jadi, kamu tak ada alasan lagi untuk khawatir kan?” ia menyebut nama sebuah bioskop. Emang, itu bioskop jauh dari keramaian. Seperti katanya, cukup aman!
“Di sana, malah lebih banyak lagi teman-temanku. Mereka bekerja di sana,”
“Halah. Kayak selebritis saja sih kamu?? Masak di mana-mana ada teman atau kenalanmu???”
“Kenyataannya begitu..”
“Jadi alasanmu selalu menolakku hanya karena takut ketahuan kan?” aku tak menyahut. Dia menarik tanganku, mengajak saling tatap muka. Shit, kayak Mike Tyson saja. “Sebenarnya, kalo tak ketahuan, kamu mau kan sama aku??”
Dasar. Apa sih orang ini? Maksa sekali. Ah. Tapi mungkin aku ini memang lelaki yang tampan. Jadi bikin dia ngebet banget begitu. Aku balik menatapnya lekat-lekat.
“Jangan persulit diri. Aku kan sudah bilang? Kalau sampai aku ketahuan, dia akan murka padaku. Aku pernah pupus harapan akan kehidupan ini. Hampir frustasi. Dan dia masih menolongku bangkit, meski sebenarnya aku tak peduli padanya. Bahkan, dia masih menolongku kala aku kesulitan men dapatkan istriku. Tanpa pertolongan dia, mungkin aku tak bakalan bisa mendapatkan cintaku itu..”
Sejenak aku ambil napas. Menyimak deras air sungai. Wanita ini pun terlihat membisu.
“Kuharap kau mau mengerti posisiku. Aku tak bisa melanggar syarat yang dia berikan padaku. Ketika aku menikah dengan istriku, aku berjanji padanya untuk merawat apa yang telah diberikannya padaku selama ini. Terutama tentang istriku itu...”
“Heh, dari kemaren kau sebut-sebut terus tentang si dia. Emangnya, siapa sih orang kau sebut dia itu? Sampai-sampai dia seperti seorang mafia begitu? Bisa mengetahui di mana pun kamu berada? Gayus saja tak begitu! Padahal dia mafia terlihai di negeri ini!”
Memang, alasanku menolak wanita ini karena takut ketahuan dia. Kalau dia tahu aku menghianati istriku, aku akan kehilangan segalanya.
“Kau salah. Gayus itu jadi menderita sekarang, justru karena melanggar syarat yang diberikan oleh dia!”
Wanita ini terbelalak.
“Heh, emang si dia yang kau maksud, juga kenal sama Gayus?! Kamu ini kok jadi aneh...”
Aku mengangguk.
“Kamu ini lagi stress ya?! Apa gara-gara istrimu lama tak di sampingmu??!”
“Aku serius. Sangat serius. Apa kamu benar-benar ingin tahu???”
Ia tertegun agak lama.
“Huh, memangnya siapa sih??”
“Dialah Allah Swt. Yang mengutus para utusan berupa malaikat yang menjaga sanubar. Para utusan bernama syaitan, yang bertugas menguji iman manusia dalam kehidupan ini. Para utusan itu ada di mana-mana. Termasuk mendengarkan apa yang kita obrolkan ini..”
“Cukup, cukup! Jangan diteruskan kata-katamu!!”
Aku menghela napas. Ketika wanita ini menutup kedua telinganya rapat-rapat. Duh, padahal masih banyak hal yang ingin kusampaikan padanya.
“Penjelasanku belum selesai nona....”
“Oh, tidak... hentikan...aduh, mimpi apa aku semalam...mimpi apa aku semalam...bisa bertemu lelaki aneh seperti kamu.... aduh, mimpi apa aku semalam...mimpi apa aku semalam...”
Sambil tak henti berkata begitu, ia mengangkat kedua tangannya memegang kepala. Aku tak tahu apa yang sedang dialaminya itu. Sungguh, aku takut ini ketahuan... []
komentar-komentar:

Aisy Maula tepuk tangaaan. . . . Smg bs d aplikasikan dlm bntk real y kang. . .
07 Februari jam 12:43 · ·
1
Tamam Ayatullah Malaka alan gesing: klo tak ada gangguan lagi, sore ini aja...
07 Februari jam 13:28 ·
Mohammad Faizi saya baca nanti, ya... sepulagn syarwah :-) biar muatan dalam kepala ini makin lengkap dengan sayur santan dulu, sebelum dicairkan
07 Februari jam 14:29 ·
Tamam Ayatullah Malaka Gus, jangan kebanyakan santan. Konon, santan bikin seseorang mabuk kepayang, haha
07 Februari jam 16:02 ·
Dzikron Fuadi Besuk buat cerpen tentang petani yo mam, jangan yg pacaran terus kayak pas kuliah aja
07 Februari jam 18:41 ·
Mohammad Faizi Wah, ternyata....
ya, ya, ya. Pasti ketahuan kalau begitu.
Oya, cerpen mazhab Hemingway. Maksud saya, andai percakapan/dialog dapat menjelaskan watak dan alur, pasti luar biasa. Ndak perlu lagi parafrase seperti para paragraf pembuka itu.
Dicoba saja
07 Februari jam 20:35 · ·
1
Tamam Ayatullah Malaka
Dzik--hahaha, kau ini. Tak rugi punya kawan jenius sepertimu. Bangsa ini perlu sosok sepertimu, biar tak melulu ngimpor beras, cabe, dan lele dari bangsa sebrang soni kuwi...
M Faizi--hahaha, ketahuan juga akal-akalan saya ini. Mulanya mau...Lihat Selengkapnya08 Februari jam 8:12 ·

















